Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

2 Obama "Bukan" Homo Sexual

Sobat yang belum tau, pasti terkejut ketika melihat Kelakuan president - president dunia dibawah ini :


President of the USA OBAMA - President of Venezuela

Paramount Leader of the People’s Republic of China - President of the USA

President of the Palestinian National Authority - Prime Minister of Israel

Chancellor of Germany - President of France

Supreme Leader of North Korea - President of South Korea

Coba Tebak Siapa??

Foto - foto diatas adalah Foto yang saya upload dari salah satu situs iklan terkemuka (benettongroup.com)di amerika dengan Headline UNHATE yang artinya membawa misi perdamaian antar negara, sebenarnya Foto paus Paulus juga ada, tapi izin publishingnya telah dilarang oleh pihak Vatikan.
Haha, Lucu Gila.. Mirip Homo.


0 Kisah Penyesalan

Seorang janda miskin Siu Lan punya anak umur 7 tahun bernama Lie Mei. Kemiskinan membuat Lie Mei harus membantu ibunya berjual kue dipasar, karena miskin Lie Mei tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya.
Pada suatu musim dingin saat selesai bikin kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk nunggu dirumah karena ia akan membeli keranjang baru.Saat pulang Siu Lan tdk menemukan Lie Mei dirmh.
Siu Lan langsung sgt marah. Putrinya benar-benar tidak tau diri, hidup susah tp masih juga pergi main-main, padahal tadi sudah dipesan agar menunggu rumah. Akhirnya Siu Lan pergi sendiri menjual kue dan sbg hukuman pintu rumahnya dikunci dari luar agar Lie Mei tidak dapat masuk. Putrinya mesti diberi pelajaran, pikirnya geram.Sepulang dari jual kue Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak didepan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Jeritan Siu Lan memecah kebekuan salju saat itu. Ia menangis meraung2, tetapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membopong Lie Mei masuk kerumah. Siu Lan mengguncang2 tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei.
 Tiba2 sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Isinya sebuah biskuit kecil yg dibungkus kertas usang dan tulisan kecil yang ada dikertas adalah tulisan Lie Mei yang berantakan tp dpt dibaca, "Mama pasti lupa, ini hari istimewa bagi mama, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup utk membeli biskuit yang besar… Mama selamat ulang tahun".KISAH NYATA ini dimuat di harian  Xia Wen Pao-Cina, thn 2007.
(Negative thinking dpt menyebabkan penyesalan seumur hidup) (Think Positive Berpikirlah bijak sebelum bertindak, penyesalan slalu datang terakhir)Emosi adalah kecepatan lidah bekerja dibandingkan dgn pikiran.    

0 3 Modus Pejabat Mengakali Kepemilikan Rumah Dinas


Ada - ada aja, Inilah salah satu Bukti orang indonesia adalah orang pintar tapi tidak disertai Moral, Seperti dilansir dari Detik.com Beberapa hasil wawancara dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Mengungkap Modus Para Pejabat mengakali Kepemilikan Rumah dinas,(Aset Rakyat kok di Aku? Aduuuhh !).

3 Cara Menurut KPK :


Pertama, ada yang mengubah status rumah dinas jadi pribadi. Misalnya di sertifikat hak milik," 
Hal ini pernah dilakukan oleh pejabat tertentu, bahkan setingkat menteri. Ada yang mencantumkan rumah dinas dalam laporan kekayaan pribadinya ke KPK.

"Awalnya kita tahu dari LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara), ternyata itu rumah dinas," jelas Haryono.
"
Kedua, yang dilakukan pejabat adalah dengan memindahtangankan rumah ke orang yang tidak berhak. "Jadi rumah tersebut ditempati oleh bukan yang berhak," imbuhnya.

Ketiga, ada aset negara berupa rumah atau gedung yang diubah kepemilikannya ke sebuah yayasan. Haryono mencontohkan praktik ini pernah terjadi Kementerian Kehutanan.

"Ada yang sudah dikembalikan di kehutanan gedung Mandala Wana Bakti. Itu yayasan," terangnya.

Dari hasil penertiban ini, KPK mengklaim berhasil menyelamatkan aset pemerintah dan mengembalikannya ke negara. Jika dihitung, nilainya mencapai Rp 3 triliun lebih.

Saat ini, proses penertiban juga terus dilakukan dengan mengajak instansi terkait. Seperti di Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan PLN.

"Semua jalan terus. Sebab rumah jabatan negara harus dikembalikan ke negara. Masuk sebagai aset negara," tegasnya.

Ditanya lebih jauh apakah ada rumah dinas pejabat di kawasan elit Jakarta yang sedang ditertibkan, Haryono tidak menampik hal itu. Namun siapa saja pemiliknya, dia belum bisa memastikan. Termasuk kemungkinan ada nama pejabat setingkat menteri atau petinggi kepolisian.

"Itu harus saya cek dulu datanya di kantor," jawabnya.




haha, Pintar ya Gan? Gimana Pendapatnya?.

0 7 Hewan Langka dunia Yang Hampir Punah

Top 7 Most Endangered Species on Earth


1. Harimau Siberia

Harimau Siberia (Panthera tigris altaica) adalah subspesies langka harimau (P. tigris). Jenis harimau ini juga dikenal dengan nama Harimau Amur, Harimau Korea, Harimau Manchuria, atau Harimau Cina Utara. Habitatnya berada di wilayah Amur di Timur Jauh dan berstatus dilindungi.
Harimau Siberia dianggap sebagai subspesies terbesar dari enam subspesies harimau.
Harimau Siberia adalah hewan yang terancam punah. Pada awal tahun 1900-an, harimau Siberia masih dapat ditemukan di sepanjang Semenanjung Korea, barat laut Mongolia, tenggara Rusia, dan barat laut Tiongkok. Kini subspesies ini telah hampir punah total dari Korea Selatan dan kebanyakan hidup di sebuah wilayah kecil di sebelah selatan Timur Jauh Rusia (kawasan Amur-Ussuri di Primorye dan Khabarovsk, sebuah tempat di mana Harimau Siberia dan Macan Tutul Amur sedang dilindungi). Tinggal sedikit yang masih hidup di Manchuria dan Korea Utara.
2.Penyu Hijau
Chelonia mydas berenang di sebuah taman karang di Hawaii. 
Cheonia mydas, atau yang biasanya dikenal dengan nama penyu hijau adalah penyu laut besar yang termasuk dalam keluarga Cheloniidae. Hewan ini adalah satu-satunya spesies dalam golongan Chelonia. Mereka hidup di semua laut tropis dan subtropis, terutama di Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Namanya didapat dari lemak bewarna hijau yang terletak di bawah cangkang mereka.
3. Jackass Penguin (Penguin Kaisar)
Penguin kaisar yang mempunyai nama latin Aptenodytes forsteri, termasuk jenis yang terbesar di antara famili penguin, yaitu dengan tinggi badan mencapai lebih dari 1 meter dan bobot lebih dari 35 kg.Sama seperti jenis penguin lainnya, penguin kaisar juga memiliki kaki yang berjaring dan bulu tebal di seluruh tubuhnya yang kedap air dan merupakan spesies burung yang tidak dapat terbang.
Penguin kaisar dideskripsikan pada tahun 1844 oleh zoolog Inggris George Robert Gray.
Namun ciri yang paling terlihat untuk membedakan penguin kaisar dengan jenis penguin lain adalah garis kuning samar pada bagian lehernya.Berbeda dengan penguin raja, dimana garis kuning pada leher penguin ini lebih mencolok dan membentuk lengkungan tegas di lehernya daripada Penguin kaisar.

4. Badak Hitam

Badak HitamDiceros bicornis adalah mamalia yang masuk kedalam ordo Perissodactyla dan merupakan hewan asli Afrika timur dan tengah, termasuk Kenya, Tanzania, Kamerun, Afrika Selatan, Namibia dan Zimbabwe. Walaupun badak ini merujuk pada makhluk "hitam", namun warnanya lebih berwarna abu-abu-putih. Nama spesies ini dipilih untuk dibedakan dari badak putih (Ceratotherium simum). Hal ini merupakan kesalahan, karena dua spesies tersebut tidak benar-benar dapat dibedakan melalui warna. The World Conservation Union (IUCN) mengumumkan pada tanggal 7 Juli 2006 bahwa satu dari empatsubspesies, Badak Hitam Afrika Barat (Diceros bicornis longipes), dinyatakan punah.Spesies ini sendiri kini berstatus kritis.

5. Greater Horseshoe Bat
Diperkirakan saat ini Jumlah Kelelawar Berkaki besar berkisar antara 4.000 sampai 6.000 Ekor, Kelelawar ini hidup di alam liar.Spesies Terancam punah dikarenakan Banyak memakan buah yang mengandung  Obat pembasmi serangga (Insektisida) yang digunakan oleh petani untuk tanaman mereka.

6. Yangtze River Dolphin


Yangtze River Dolphin atau Baiji  (Lipotes vexilliferLipotes berarti "tertinggal di belakang", vexillifer "pembawa bendera") adalah lumba-lumba air tawar yang hanya dapat ditemui di sungai Yangtze, Tiongkok. Lumba-lumba ini disebut "Dewi Yangtze" di Tiongkok, selain itu, lumba-lumba ini juga disebut Lumba-lumba sungai TiongkokLumba-lumba sungai YangtzeBeijiLumba-lumba sirip putih dan Lumba-lumba Yangtze. Daftar merah IUCN tahun 2007 mengklasifikasi Baiji sebagai spesies kritis, dan kemungkinan spesies ini telah punah.

Perbandingan besar Baiji dengan manusia


Perbandingan Manusia dan Baiji



Populasi Baiji menurun dengan drastis pada beberapa dekade karena industrialisasi Tiongkok dan penggunaan sungai untuk memancing, transportasi dan hidrolistrik. Penglihatan Baiji terakhir dikonfirmasi tahun 2004, dengan penglihatan yang tidak dapat dikonfirmasi pada Agustus 2007. Usaha dilakukan untuk menyelamatkan spesies ini, tetapi ekspedisi lumba-lumba air tawar Yangtze 2006 gagal untuk menemukan Baiji di sungai ini. Organisator menyatakan Baiji "punah secara fungsional".yang akan membuatnya sebagal spesies mamalia air pertama yang punah sejak kepunahan singa laut Jepang dan anjing laut biarawan Karibia tahun 1950-an. Kepunahannya juga akan menjadi kepunahan pertama spesies cetacean.

7.Unta Baktria

Bactrian.camel.sideon.arp.jpg


Unta Baktria (Camelus bactrianus) adalah binatang berkuku belah yang asli dari stepa-stepa di Asia timur. Unta Baktria mempunyai dua punuk pada punggungnya, berbeda dengan Unta dromedarius, yang juga dikenal sebagai Unta Arab, yang hanya berpunuk satu.

Hampir semua Unta Baktria yang diperkirakan berjumlah 1,4 juta ekor sekarang ini diternakkan, tetapi pada Oktober 2002 diperkirakan 950 ekor tetap hidup liar di Tiongkok barat laut dan Mongolia dimasukkan dalam daftar spesies terancam kritis.

Unta Baktria tingginya lebih dari 2 meter pada punuknya dengan berat sekitar 725 kg. Mereka tergolong herbivora, memakan rumput, daun-daunan, dan sereal, mampu minum hingga 120 liter air sekaligus. Mulutnya sangat kuat, memungkinkan mereka memakan tanaman-tanaman gurun yang berduri.

Daya adaptasi mereka sangat baik untuk melindungi dirinya dari panas padang gurun dan pasir, dengan telapak kaki yang lebar dan berlapis serta lapisan-lapisan kulit yang tebal di lututnya serta dadanya, lubang hidung yang dapat membuka dan menutup, telinga yang penuh dengan rambut-rambut pelindung, serta alis mata yang tebal dengan dua baris bulu mata yang panjang. Bulu yang tebal dan wol lapisan dalamnya membuat binatang ini tetap hangat di malam-malam padang gurun yang dingin juga melapisinya terhadap panas di siang hari.

Unta Dromedarius (Camelus dromedarius) adalah satu-satunya unta lain yang bertahan, yang aslinya dari Gurun Sahara, tetapi kini telah lenyap di alam liarnya. Dibandingkan dengan Dromedarius, Unta Baktria lebih kekar dan tangguh serta mampu bertahan di panas padang gurun yang membakar di Iranutara hingga musim dingin yang membeku di Tibet . Dromedarius lebih tinggi dan lebih cepat bergeraknya. Pengendara dapat membuatnya berjalan dengan kecepatan antara 13-16 km per jam selama berjam-jam. Seekor Unta Baktria yang membawa beban dapat berjalan dengan kecepatan sekitar 4 km per jam.



Gambar : om Google

36 Tempat Wisata di Subang yang Wajib dikunjungi

Berwisata atau piknik, biasanya dilakukan orang di akhir pekan setelah satu minggu penuh menjalani aktivitas rutin yang membosankan. Sedikit sharing aja, Berikut beberapa Tempat wisata di Kabupaten Subang yang layak dikunjungi :

 1. Ciater Hot Spring Water atau Kolam pemandian Air panas Sari Ater.

Alamat : Jln. Raya Ciater - Subang (Sebelum Gunung Tangkuban Perahu - Bandung)

Telepon : 0260-471700/471800/471900
Fax : 0260-470890/ 471666
Pengelola : PT. Sari Ater Website : www.sariater-hotel.com

Picture By : Java Bae

Sari Ater Hot Spring Resort atau lebih dikenal dengan obyek wisata air panas Ciater, terletak pada kawasan pegunungan Subang, di kaki gunung Tangkubanparahu, tepatnya di Desa Ciater, Kecamatan Ciater Kab.Subang. Obyek wisata ini merupakan salah satu obyek terpopuler di Indonesia, para wisatawan dapat menikmati sumber mata air panas yang berasal dari kawah aktif Gunung Tangkubanparahu yang terletak tidak jauh dari obyek wisata sari ater, sumber mata air panas tersebut disajikan dalam bentuk kolam dan kamar rendam dengan desain yang unik, yang tersebar dibeberapa lokasi obyek wisata sari ater. Dengan luas areal 30 ha dan pesona alam khas pegunungan, Sari Ater hot spring resort banyak memberikan fasilitas wisata bagi para wisatawan yang berekreasi bersama keluarga selain untuk berendam juga dapat menikmati keindahan alam pegunungan yang masih asri.

Fasilitas

  •  Fasilitas Resort

Sari ater Hot Spring Resort mempunyai 103 kamar dan bungalow dengan berbagai type, lengkap dengan fasilitas ruangan nya.

  •  Fasilitas Olah raga dan Adventure.

Tenis lapangan, Basket & volley, put & put mini golf, wahana anak-anak, tea walk, paint ball games, gokart/ATV, off road, outbond, dsb.

  • Fasilitas Rekreasi. 

 Kolam rendam air panas, perahu dayung, lahan perkemahan, kolam pancing, picnic area, kerajinan keramik, dsb. Fasilitas Restoran dan Bar. Fasilitas Confrence & Banquet.

2. Capolaga Adventure Camp


Alamat : Desa Cicadas Panaruban–Kec. Jalancagak 

Merupakan salah satu obyek ekowisata yang ada di kabupaten Subang, terletak di desa Cicadas Panaruban, kecamatan Sagalaherang.
Capolaga Adventure Camp mempunyai keindahan ekosistem sungai Cimuja yang unik berupa air terjun Cimuja, air terjun Karembong dan air terjun Sawer yang dikelola secara kaidah alam. Selain air terjun, di obyek wisata inipun dapat ditemui gua-gua, salah satunya adalah Gua Badak. Dengan didukung oleh fasilitas wisata dan kegiatan out bound, menjadikan obyek ini tempat yang sangat cocok bagi para wisatawan yang mempunyai jiwa petualang.




Fasilitas
Fasilitas dan kegiatan yang dapat mendukung kegiatan rekreasi di CapolagaAdventure Camp di antaranya:
1. Out bound
2. Outing.
3. Family atau company gathering.
4. Adventure sport.
5. Tarcking dan bird watching.
6. Tea walk.
7. Lahan perkemahan.
8. Photograhy.
9. Kolam pancing.



Aksesibilitas
Waktu tempuh dari Subang menuju obyek wisata ini yaitu sekitar 45 menit, dariBandung 1,5 jam sedangkan dari Jakarta via tol Sadang sekitar 3 jam. Adapun kondisi jalan sebagian masih berupa jalan batu (Subang Gitu Loohhh..).


3. Curug Agung/Batu Kapur



Alamat : Desa Curug Agung
Kecamatan Sagalaherang - Subang
Pengelola : PT. Bumi Curug Indah

Curug Agung yang dikenal dengan nama Batu Kapur, terletak di Desa Curug Agung Kecamatan Sagalaherang. Berdasarkan pengalaman para pengunjung yang datang untuk berendam di kolam air panas tersebut, dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit seperti gatal-gatal.


Fasilitas dan Tarif
Selain kolam rendam air panas, lokasi wisata ini dilengkapi pula dengan beberapa fasilitas pondokan , tempat rekreasi anak-anak, arena perkemahan dan rumah makan.
Tarif masuk Rp Rp. 2.000 /orang

Aksesibilitas
Kondisi jalan menuju lokasi beraspal, sehingga dapat dilalui kendaraan roda 2 dan roda 4. Untuk menuju ke lokasi dapat ditempuh melalui Kecamatan Sagalaherang atau Kecamatan Dawuan. Adapun waktu tempuh yaitu dari subang (via Kec. Dawuan) sekitar 30 menit, dari Bandung (via Sagalaherang) 90 menit sedangkan dari Jakarta (via tol Sadang) sekitar 2,5 jam.


4. Kolam Renang Tirta Galih


Alamat  : Jl. Panji Km 0.5 Kel. Cigadung Subang
Telepon (0260) 414651, Hp. 081 221 699 333
Pengelola  Galih Jati Nugraha
Berdiri  Tahun 2000

Kolam Renang Tirta Galih, terletak di kota Subangyang menempati area seluas ±2 ha, airnya berasal dari sumber mata air yang bersih, jernih dan mudah untuk digunakan untuk mandi. Kolam renang ini sering dikunjungi pada waktu hari libur, yaitu sabtu dan minggu, dengan rata-rata pengunjung 100 – 150 org, di hari-hari biasa kolam renang tersebut sering di kunjungi oleh sekolah-sekolah untuk melakukan kegiatan praktek olah raga renang.
Fasilitas dan Tarif
Ø Memiliki 2 Kolam renang dengan ukuran :
a.   16 x 25 m
b.   15 x 20 m
Ø Kamar Bilas     : 1 Kamar
Ø Kamar Ganti    : 3 Kamar
Ø Kamar Mandi   : 3 Kamar
Ø Tempat Parkir kapasitas ± 15 mobil
Ø Mushola
Ø Warung
Ø Memiliki 4 Karyawan
Tarif masuk untuk dewasa dan anak-anak Rp. 7.000 /orang
Aksesibilitas
Kondisi jalan menuju lokasi beraspal, sehingga dapat dilalui kendaraan roda 2 dan roda 4. Untuk menuju ke lokasi dari kota Subang dengan jarak tempuh ± 0.5 Km, dengan waktu ± 5 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi.

5. Pantai Kalapa Patimban




Alamat : Kecamatan Pusakanagara

Pengelola : Desa (masyarakat)


Pantai Kalapa Patimban merupakan salah satu obyek wisata yang terdapat di Kabupaten Subang yang mempunyai daya tarik khas wisata pantai. Pantai Kalapa Patimban juga mempunyai kedalaman laut yang landai sehingga para pengunjung dapat aman bermain di laut. Kegiatan yang dapat dilakukan salah satunya adalah bola volly pantai, sky boat, berperahu, memancing dan masih banyak lagi kegiatan yang dapat dilakukan disana bersama keluarga.
Fasilitas
Tempat peristirahatan, area parkir,warung- warung makanan


Aksesibilitas
Jalan menuju  obyek wisata ini sudah beraspal, sehingga pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi baik roda 2 maupun roda 4 atau angkutan umum. Adapun waktu tempuh yaitu dari kota subang  sekitar 40 menit ke arah utara sedangkan dari bandung sekitar 2,5 jam dan dari jakarta via tol Cikopo lalu masuk jalur pantura dengan waktu tempuh sekitar 3 jam.


6. Penangkaran Buaya Blanakan
Kec. Blanakan-SubangPengelola PT Perhutani

Penangkaran Buaya Blanakan terletak di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang. Di lokasi ini dikembangkan penangkaran buaya jenis muara yang berjumlah kurang lebih 200 ekor terdiri dari buaya jantan dan betina lengkap dengan habitatnya. Di lokasi ini pengunjung pun dapat pula menyaksikan suguhan atraksi buaya-buaya muara dari atas balkon, saat menyantap makanan yang diberikan pengelola.
Obyek wisata dengan lahan seluas 1,5 ha, dari luas total 8 ha wilayah hutan Tegaltangkil ini dikelola oleh PT Perhutani, selain disuguhi atraksi buaya-buaya muara para wisatawan yang datang ke lokasi ini dapat menikmati sajian kuliner berupa makanan laut khas Blanakan yaitu ikan bakar Etong, Cumi dan Kepiting, yang disajikan di warung-warung yang tertata rapih di bawah kerindangan pohon-pohon, selain itu pula para wisatawan juga dapat menyusuri pesisir laut Blanakan sampai dengan Patimban dengan menggunakan jasa penyewaan kapal boat yang tersedia disana, atau
 bagi pengunjung yang ingin melakukan aktivitas lain seperti berkemah, jalan-jalan di hutan mangrove, dan menyaksikan beberapa satwa khas rawa pun bisa.
Pilihan lainnya adalah trekking. Jika waktunya tepat, pengunjung dapat menyaksikan beberapa satwa liar lain seperti berang-berang, ular sawah, kucing hutan, dan burung kuntul. Atau bagi para pengunjung yang memiliki hobi mancing, juga dapat menyalurkan kesenangannya di Sungai Blanakan.

Faslitas dan Tarif
Terminal perahu, areal parkir, arena bermain anak, warung-warung makanan.
Tarif masuk Rp 4000/0rang
Aksesibilitas
Lokasi obyek wisata ini terletak di wilayah Kab. Subang bagian utara, tepatnya di jalur Pantura. Oleh karenanya jalan menuju lokasi ini beraspal, sehingga pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi roda 2 atau roda 4, ataupun menggunakan kendaraan umum. Adapun waktu tempuh dari kota Subang sekitar 60 menit, dari Bandung sekitar 2,5 jam dan dari Jakarta via Pantura sekitar 3 jam.


7. Pantai Pondok Bali
Jl Raya Ciasem, Ds. Mayangan
Legonkulon - Subang
Pengelola CV Arema
Merupakan obyek wisata pantai yang terletak di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon Kab. Subang. Hamparan pasir yang membentang di pesisir laut utara menjadikan ciri khas wisata pantai, para wisatawan yang berkunjung ke obyek ini dapat melakukan kegiatan rekreasi seperti berenang, memancing di laut serta dapat menikmati keindahan pesona alam pada saat matahari terbenam.
Fasilitas dan tarif
Terminal perahu, arena bermain anak, arena voli pantai, area parkir, warung-warung makanan, dan kantor.
Tarif masuk Rp 5.000

Aksesibilitas
Jalan menuju obyek wisata ini sudah beraspal, sehingga pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi baik roda 2 maupun roda 4 atau angkutan umum. Adapun waktu tempuh yaitu dari kota Subang sekitar 40 menit ke arah utara sedangkan dari Bandung sekitar 2,5 jam dan dari Jakarta via tol Cikopo lalu masuk jalur pantura dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam serta dari Pamanukan kurang lebih 15 menit.

Special Thanks To : Subang.go.id

4 Menaikan Traffick Dengan Plipeo

Posting Blog dengan Plipeo adalah salah satu Cara cepat dan mudah dapat traffick tambahan,

Ini buktinya gan,

Dalam satu hari, ane bisa dapat hampir 50 kunjungan dari reffering site Plipeo,
Caranya Mudah,



1. Silahkan masuk ke Plipeo disini.


2. Klik Daftar seperti gambar diatas yang ada tanda panahnya, maka anda akan diajak seperti gambar dibawah ini. isikan data blog anda! perhatikan gambar dibawah



3. Setelah data terisi dengan benar, maka klik tombol Kirim. maka anda akan melihat gambar seperti dibawah ini


4. Silahkan isi semua keterangan website agan,
5. Buat Widget dan, paste di blog agan, (Rancangan - edit halaman - tambah widget)
6. dan, Selesai.
7. Setelah itu, silahkan agan Posting di plipeo dengan Mengklik tab Tambah Posting,
8. Pilih gambar dan Krop(optional)
9. Terbitkan, tunggu konfirmasi dati admin plipeo untuk meninjau keaslian artikel.
10. Kalau udah Diterima, Posting agan akan tampil di Semua blog yang menggunakan Plipeo.


Moga bermanfaat, jangan lupa tinggalin Komentar.
Salam Blogger,

           

0 Karikatur - Pasha Ungu


Ada –  ada aja, Karikatur Buatan Kang Ajuz (Inilah.com), iseng  –  iseng Maen kesana, ketemu penyayi Band yang lagi ngetrend, Pasha Ungu, Atau Sigit purnomo.

Langsung aja ni gambar sama ane di jadiin Background Twitter. Hehe.






Sekedar Hiburan,
Salam Blogger

0 Karikatur - gayus Lumbuan

GAYUS LUMBUAN, SEMOGA LEBIH JUJUR !!!!


Prof. Dr. Topane Gayus Lumbuun, SH, MH (lahir di Manado19 Januari 1948; umur 63 tahun), adalah seorang advokat dan anggota DPR-RI periode 2004-2009 dan 2009-2014, mewakili Daerah Pemilihan Jawa Timur V. Gayus Lumbun juga adalah Doktor Ilmu Hukum UI. [1] Saat ini ia duduk di Komisi III dan pernah menjabat sebagai Ketua Badan Kehormatan DPR. Gayus pernah menjadi Wakil Ketua Panitia Khusus Hak Angket Bank Century.

JAKARTA (Pos Kota) – Mahkamah Agung (MA) berharap Hakim Agung terpilih Gayus Lumbuun untuk segera menyesuaikan diri dengan profesi baru dan meninggalkan kebiasaan bicara lantang ke publik.
“Ya, harus menyesuaikan diri,  dong, karena sebagai hakim harus diam. Artinya, yang terbuka ya terbuka begitu sebaliknya. Kalau mau baca putusannya silahkan, tapi jangan recoki saat membaca keputusan,” kata Wakil Ketua MA Non-Yudisial Ahmad Kamil di MA, Jumat.
Menurut Ahmad Kamil, penyesuaian itu disebabkan di MA sudah pembagian tugas yang jelas dan ketat, dimana untuk berbicara keluar sudah diserahkan kepada juru bicara (Jubir) dan hubungan masyarakat (Humas).
Namun demikian, dia meyakini Gayus Lumbuun dapat segera menyesuaikan diri, karena ia seorang intelektual dan lama berkecimpung di dunia hukum, baik sebagai pengacara maupun anggota Komisi III DPR, yang membidangi hukum. “Saya yakin itu.”
Prof. Dr. Gayus Lumbuun SH, MH, yang juga Rektor Universitas Krisnadwipayana (Unkris) akhirnya terpilih sebagai salah satu dari enam hakim agung, yang diipilih melalui pemungutan suara (voting) di ruang rapat Komisi III DPR. Gayus mendapat 44 suara dibawah Suhadi dengan 51 suara.
Peringkat ketiga dalam Fit and Proper Test selaksi hakim agung yang diikuti sebanyak 18 orang calon, ditempati Nurul Elmiah (42), Andi Samsan Nganro (42), Dudu Duswara (34) dan terakhir Hary Djatmiko (28).
Sementara ini MA mempunyai 48 orang hakim agung. Dengan tambahan sebanyak enam hakim agung baru, maka jumlah semua menjadi 54 orang hakim agung. Pertambahan hakim ini diharapkan dapat mengatasi 13 ribu perkara yang masuk ke MA. (ahi/dms)


Source = inilah.com, Post Kota

1 Asal Usul Orang Sunda




Mencari sejarah sunda dengan dua perahu


Sudah sejak tahun 1950-an orang Sunda gelisah dengan sejarahnya. Lebih-lebih generasi sekarang, mereka selalu mempertanyakan, betulkah sejarah Sunda seperti yang diceritakan orang-orang tua mereka? Katanya, kekuasaannya membentang sejak Kali Cipamali di timur terus ke barat pada daerah yang disebut sekarang Jawa Barat dengan Prabu Siliwangi sebagai salah seorang rajanya yang bijaksana. Betulkah? Sejarah Sunda memang tidak banyak berbicara dalam percaturan sejarah nasional. "Yang diajarkan di sekolah, paling hanya tiga kalimat," kata Dr Edi Sukardi Ekadjati, peneliti, sejarawan dan Kepala Museum Asia Afrika di Bandung. Isinya singkat saja hanya mengungkap tentang Kerajaan Sunda dengan Raja Sri Baduga di daerah yang sekarang disebut Jawa Barat, lalu runtuh. Padahal, kerajaan dengan corak animistis dan hinduistis ini sudah berdiri sejak abad ke-8 Masehi dan berakhir eksistensinya menjelang abad ke-16 Masehi. Kisah-kisahnya yang begitu panjang, lebih banyak diketahui melalui cerita lisan sehingga sulit ditelusuri jejak sejarahnya. Tetapi ini tidak berarti, nenek moyang orang Sunda di masa lalu tidak meninggalkan sesuatu yang bisa dilacak oleh anak cucunya karena kecakapan tulis-menulis di wilayah Sunda sudah diketahui sejak abad ke-5 Masehi. Ini bisa dibuktikan dengan prasasti-prasasti di masa itu.

Memang peninggalan karya tulis berupa naskah di masa itu hingga kini belum dijumpai. Tetapi setelah itu ditemukan naskah kuno dalam bahasa dan huruf Sunda Kuno, yakni naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian yang selesai disusun tahun 1518 M dan naskah Carita Bujangga Manik yang dibuat akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16. Suhamir, arsitek yang menaruh minat besar dalam sejarah Sunda menjuluki naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian sebagai "Ensiklopedi Sunda".

Naskah-naskah lainnya adalah Cariosan Prabu Siliwangi (abad ke-17 atau awal abad ke-18), Ratu Pakuan, Wawacan Sajarah Galuh, Babad Pakuan, Carita Waruga Guru, Babad Siliwangi dan lainnya.

NASKAH Sanghyang Siksa Kana Ng Karesian dan Carita Bujangga Manik disusun pada zaman Kerajaan Sunda-Pajajaran masih ada dan berkembang. Karena itu, dilihat dari kacamata sejarah, kedua naskah tersebut bisa jadi sumber primer. Sedangkan naskah-naskah lainnya yang disusun setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh termasuk sumber sekunder. Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh pada tahun 1579.

Kedua naskah tersebut ditulis dengan bahasa dan huruf Sunda Kuno. Sedangkan naskah lainnya ada yang ditulis dengan bahasa dan huruf Jawa, bahasa dan huruf Arab, bahasa Jawa-Sunda atau huruf Jawa tapi bahasanya bahasa Sunda seperti naskah Carita Waruga Guru dan bahasa Melayu dan huruf Latin. Sampai tahun 1980-an, pembuatan naskah Sunda masih terus berlangsung meskipun dalam bentuk penyalinan.

Naskah Siksa Kanda Ng Karesian dan Carita Bujangga Manik ditulis di atas daun lontar dan daun palem. Naskah-naskah lainnya ada pula yang ditulis di daun nipah, daun enau atau daun kelapa. Cara menulisnya dikerat/digores dengan menggunakan alat yang disebut peso pagot, sejenis pisau yang ujungnya runcing. Sedangkan naskah-naskah yang lebih muda menggunakan kertas sebagai pengganti daun dan ditulis dengan menggunakan tinta.

Sebagian naskah-naskah itu ada yang tersimpan di museum baik di dalam maupun di luar negeri. Tetapi sebagian besar lainnya disimpan di rumah penduduk atau tempat-tempat tertentu yang dikeramatkan karena naskah dianggap sebagai barang sakral. Pemegangnya juga orang tertentu saja.

Karena cara penyimpanan yang tidak memenuhi syarat, adakalanya naskah rusak berat sehingga tidak bisa terbaca lagi. Naskah di Lengkong, Kuningan misalnya, tahun 1982 masih bisa dibaca. "Tetapi ketika saya datang lagi ke sana pada tahun 1987, naskah sudah tidak bisa direkontruksi lagi," keluh Ekadjati.

Tetapi ada juga naskah-naskah yang sudah tidak disimpan dengan baik karena ahli warisnya merasa tidak mempunyai kepentingan lagi. Di Banjaran, sebuah daerah yang letaknya di Bandung Selatan, naskah yang mereka miliki disimpan di kandang ayam karena rumah sedang dibongkar. Atau ada pula yang menyimpannya di atas langit-langit dapur, sehingga warnanya menjadi kuning kehitam-hitaman.

Dengan cara penyimpanan seperti itu, apalagi berasal dari bahan-bahan yang mudah lapuk, dalam beberapa tahun saja tidak mustahil naskah-naskah tersebut tidak akan berbekas lagi, sebelum diteliti. Setelah terlambat, baru kemudian kita menyadari telah kehilangan sejarah atau kekayaan budaya.

Sebelum pengalaman pahit ini terjadi, Edi S Ekadjati dengan bantuan Toyota Foundation kemudian mengabadikannya dalam bentuk mikro film. Sekarang, sekitar 2000 naskah dari mikro film tersebut dimasukkan ke komputer sehingga suatu saat, bisa dibuat katalog yang lebih lengkap. Ini melengkapi katalog naskah Sunda yang sudah ada sekarang, yang memuat 1904 naskah.

DARI sejumlah naskah tersebut, 95 naskah ditulis dalam huruf Sunda Kuno, 438 ditulis dalam huruf Sunda-Jawa, 1.060 ditulis dengan huruf Arab (Pegon) dan 311 naskah lainnya ditulis dengan huruf Latin. Selain itu masih ada 144 naskah yang menggunakan dua macam aksara atau lebih, yakni Sunda-Jawa, Arab dan Latin.

Dilihat dari jenis karangannya, naskah sejarah hanyalah sekitar 9 persen dan naskah sastra sejarah 12 persen. Sebagian besar lainnya, 25 persen berupa naskah sastra, dan naskah agama 15 persen. Sayang, walaupun jumlahnya banyak, baru sedikit sekali yang diteliti. Eddi S. Ekadjati memperkirakan baru sekitar 100-125 judul saja yang diteliti. Ini berarti, tantangan untuk para peneliti dalam meneliti sejarah Sunda masih sangat besar.

Penelitian tersebut, menurut Edi S. Ekajati, idealnya dilakukan dulu secara filologis karena ilmu yang menggarap naskah itu ialah filologi. Baru kemudian hasil suntingan filolog tersebut dijadikan obyek atau bahan studi ilmu-ilmu lain sesuai dengan jenis isi naskahnya. Sulitnya, sangat sedikit filolog yang tertarik terhadap naskah Sunda.

Belum lagi, lebih sedikit lagi yang bisa membaca huruf Sunda Kuno -- itupun sebagian diantaranya berasal dari disiplin lain. Atja dan Saleh Danasasmita misalnya, keduanya sudah meninggal. Sedangkan lainnya Ayatrohaedi dan Hasan Djafar (arkeologi) lalu Kalsum dan Undang A Darsa. Edi S Ekadjati sebenarnya berlatar belakang sejarah. Tetapi karena minatnya yang besar terhadap sejarah Sunda, akhirnya mengharuskan ia mendalami filologi, sehingga dia acapkali dijuluki "berada di dua perahu". Dia mengakui, karena terbatasnya filolog yang berminat, maka jika seseorang ingin mengetahui sejarah Sunda maka ia harus berada "di dua perahu".

SEJARAH Sunda sangat boleh jadi berbeda dibanding sejarah etnis lain di Indonesia karena daerah ini tidak banyak mewariskan peninggalan berupa prasasti atau candi, tetapi lebih banyak berupa naskah yang kini tersimpan di museum atau tempat-tempat lainnya. Di Perpustakaan Nasional saja misalnya, terdapat 89 naskah Sunda Kuno sedangkan yang sudah dikerjakan barulah tujuh naskah.

Tetapi dari sedikit naskah itu, menurut Edi S. Ekadjati, ternyata sudah memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap sejarah Sunda. Baik mengenai daftar raja yang memerintah dan masa pemerintahannya serta peristiwa-peristiwa sekitar yang terjadi pada saat itu, sehingga walaupun belum secara lengkap sudah bisa disusun raja-raja Sunda yang memerintah selama kurang lebih 800 tahun. Yakni, sejak Sanjaya yang memerintah pada abad ke-8 sampai Raja Sunda terakhir pada tahun 1579. Bahkan dengan naskah Siksa Kanda Ng Karesian yang ditulis pada masa Sri Baduga Maharaja, diketahui beberapa aspek kebudayaan Sunda saat itu. Sri Baduga Maharaja,dalam cerita rakyat diidentikkan dengan Prabu Siliwangi.

Jalan untuk menyingkap tabir sejarah Sunda masih panjang. Di Perpustakaan Nasional saja, masih 82 naskah lagi yang belum digarap. Walau demikian, Edi S Ekadjati optimis, suatu saat sejarah Sunda bisa disusun lebih lengkap dan jelas. Salah satu harapannya diletakkan pada jerih payah Ali Sastramidjaja atau Abah Ali, seorang peminat sejarah Sunda, yang kini sedang menggarap naskah Ciburuy bersama teman-temannya. (Her Suganda)

 Sejarah Pasundan mulai terkuak
Prasasti koleksi Museum Adam Malik Jakarta, ikut memperkuat dugaan adanya kesinambungan Kerajaan Pasundan dengan Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah. Bahkan bila dikaitkan dengan temuan-temuan prasasti di Jawa Barat termasuk temuan tahun 90-an, prasasti ini ikut memberi titik terang sejarah klasik di Tanah Pasundan yang selama ini masih gelap.

Kepala Bidang Arkeologi Klasik pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) Dr Endang Sri Hadiati didampingi peneliti arkeologi spesialis Sunda, Richadiana Kartakusuma SU, mengemukakan itu saat ditemui Kompas di ruang kerjanya di Jakarta, Senin (20/2). Keduanya ditemui dalam kaitan dengan Sejarah Klasik Sunda yang selama ini masih gelap, bila dibanding dengan sejarah klasik di Jawa Tengah, yang telah mampu memberikan sejarah lebih runtut.

Bila benar dugaan adanya kesinambungan antara Raja Sunda dan Jawa Tengah ini, maka ini merupakan asumsi sejarah baru dalam perkembangan sejarah nasional selama ini. Endang Sri Hadiati menyatakan, kesinambungan atau adanya dugaan hubungan antara Kerajaan Pasundandan kerajaan di Jawa Tengah itu disebut-sebut dalam lontar Carita Parahiyangan yang ditemukan Ciamis, Jawa Barat.
Lontar yang ditemukan tahun 1962 ini mengisahkan tentang raja-raja Tanah Galuh Jawa Barat. Salah satu lontar dari Carita Parahiyangan yang belum diketahui angka tahunnya itu di antaranya menyebut nama Sanjaya sebagai pencetus generasi baru yang dikenal dengan Dewa Raja.

Apa yang disebut dalam Carita Parahiyangan, menurut Richadiana, ada kesamaan makna dengan prasasti yang ditemukan di Gunung Wukir, yang berada di antara daerah Sleman dan Magelang (Jawa Tengah). Prasasti batu abad VII yang kemudian disebut sebagai Prasasti Canggal itu secara jelas menyebut, bahwa di wilayah itu telah berdiri wangsa atau kerajaan baru dengan Sanjaya nama rajanya, atau dikenal kemudian sebagai Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

"Saya belum berani memastikan adanya kesinambungan Raja Sunda dan Jawa. Yang pasti, Carita Parihiyangan yang berisi tentang cerita raja-raja Galuh itu, salah satunya menyebut nama Sanjaya yang membuat kerajaan baru, dan itu sama persis yang disebutkan dalam prasasti Canggal di Jawa Tengah," tegas Richadiana.

Menurut Richadiana, dugaan itu diperkuat pula dengan prasasti yang dikoleksi oleh Adam Malik (almarhum), yang dikenal dengan prasasti Sragen (ditemukan di Sragen Jateng). Richadiana tidak tahu persis kapan prasasti itu dikoleksi Adam Malik. Yang pasti, prasasti itu isinya juga bisa menjadi fakta adanya dugaan kesinambungan antara Kerajaan Pasundan dan Jawa.

Dua abad hilang
Endang Sri Hadiati dan Richadiana mengakui, sejarah Pasundan memang masih gelap, artinya belum mempunyai alur sejarah yang mendekati pasti.

"Tonggak sejarah klasik Jawa Barat hanya pada 6 buah prasasti Raja Tarumanegara sekitar abad V. Temuan prasati lain tidak mendukung adanya kelanjutan sejarah, karena selisih waktunya berabad-abad," tandasnya.
Namun begitu, jika dicermati dan dikaitkan dengan temuan tahun 90-an ini, sebenarnya hanya rentang waktu dua abad saja sejarah Klasik Sunda yang hilang, bila dihitung sejak Raja Tarumanegara, yaitu antara abad ke V - VII.

Richadiana mengatakan, setelah abad Raja Tarumanegara V sampai abad ke VII memang tidak ditemukan prasasti. Namun lontar Carita Parahiyangan mengisahkan adanya kehidupan raja-raja di Tanah Galuh pada abad VII, disusul kemudian adanya temuan prasasti abad VIII Juru Pangambat. Prasasti ini ditemukan di seputar prasasti Tarumanegara, yang mengisahkan tentang adanya seorang pejabat tinggi yang bernama Rakai Juru Pangambat.

Menurut Richadiana, prasasti Huludayueh yang ditemukan di Cirebon tahun 1990 mengisahkan bahwa antara abad 10 sampai 12 hidup seorang Raja bernama Pakuan. Sebelum itu ditemukan prasasti di Tasikmalaya yang dikenal dengan prasasti Rumatak. Prasasti berangka tahun 1.030 ini mengisahkan bahwa pada masa itu hidup seorang Raja Jaya Bupati.

"Sebenarnya kalau kita runut prasasti-prasasti itu sudah mengindikasikan adanya urutan sejarah klasik Sunda. Tidak ada peminat yang mempelajari sejarah klasik orang Sunda, selain orang Sunda sendiri. Itu yang menyebabkan sejarah Sunda seperti merana,"tegasnya. (top)
KOMPAS, Selasa, 21-02-1995. Hal. 16
PUSAT INFORMASI KOMPAS
Palmerah Selatan 26-2

PENJELASAN PRASASTI HULU DAYEUH
Sejarah Jawa Barat hingga kini memang masih agak gelap, bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Nusantara. Oleh karena itu setiap temuan arkeologi dari Jawa Barat senantiasa mengundang perhatian dan rasa penasaran para pakar kebudayaan yang menggumuli masalah sejarah Sunda (Jawa Barat).

Untuk itu saya mengemukakan beberapa hal yang berkenaan dengan Prasasti Hulu Dayeuy yang diungkapkan oleh Bapak Muchtar MS (Kepala Seksi Kebudayaan, Kndep Dikbud Cirebon) kepada wartawan yang telah dimuat beberapa waktu lalu dalam Kompas, Selasa 31 Desember 1991 (pada halaman 12, kolom 1-3).

Prasasti Hulu Dayeuh tersebut bukan berasal dari (Predu) Ratudewata, tetapi kemungkinan ada hubungannya dengan Jayadewata (Raja Pakwan-Pajajaran abad ke-15 Masehi). Raja ini sama dengan SriBaduga Maharaja atau Raden pamanah Rasa alias Sang Udubasu di dalam Carita Parahiyangan, sesuai dengan yang disebutkan dalam rasasti Hulu Dayeuh itu sendiri (baris ke-11). Tetapi belum berarti bahwa prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Jayadewata.

Perlu kiranya diketahui bahwa Jayadewata tidak sama dengan Ratudewata. Kedua raja ini memerintah di Pakwan-Pajajaran tetapi personilnya berbeda. Bila Jayadewata memerintah pada tahun 1482-1521 Masehi (39 tahun) maka (Prebu) Ratudewata memegang tampuk Pakwan-Pajajaran tahun 1535-1543 Masehi (8 tahun).

Bagian atas batu yang diduga mencantumkan pertanggalan prasasti tesebut patah, dan aksaranya pun turut hilang serta sebagian lagi ada yang akur, sehingga kronologi prasasti belum dapat diketahui dengan pasti. Keausan aksara itu mungkin karena semula letak batu prasastinya terbalik dengan posisi bagian atas tertanam dalam tanah, namun kini batu tesebut telah diletakkan sebagaimana mestinya.

Bentuk hurufnya diketahui beraksasa Pasca Pallava, mirip dengan aksara dalam prasasti-prasasti masa Kayuwangi-Balitung (abad ke 9-10 Masehi), bukan Kayuwanci-Belitung seperti berita terdahulu.

Demikianlah ralat ini, dan sama sekali tidak dimaksudkan menyinggung perasaan Bapak Muchtar MS, hanya sekadar membenarkan apa yang mungkin dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, dalam menginterpretasikan sejarah Jawa Barat, khususnya yang berkaitan dengan Prasasti Hulu Dayeuh.

Dalam hal ini saya merasa bertanggungjawab karena saya yang mengatakan keterangan di atas secara lisan kepada Bapak Muchtar MS ketika mengadakan penelitian arkeologi di daerah Sumber, Cirebon.

Sumber :
Dr Edi S. Ekadjati, KOMPAS, Selasa, 01-02-1994. Hal. 20. PUSAT INFORMASI KOMPAS, Palmerah Selatan 26-28, JAKARTA 10270
KOMPAS, Selasa, 21-02-1995. Hal. 16
Richadiana Kartakusuma, Staf Peneliti Bidang Arkeologi Klasik, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
 

Info Seger Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates